Gresik | Jurnalpersnusantara.com — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa begitu istimewa di lingkungan UPT SDN 273 Gresik. Dengan mengusung tema “Karnaval Budaya Indonesia: Bersatu dalam Keberagaman, Melestarikan Budaya, Menginspirasi Dunia”, seluruh peserta tampil dalam balutan pakaian adat Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.
Karnaval tersebut tidak hanya menghadirkan kemeriahan visual melalui ragam busana tradisional yang penuh warna, tetapi juga menjadi momentum pendidikan karakter untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para peserta didik.
Anak-anak tampil percaya diri dengan mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai aksesori khas daerah. Keberagaman busana yang ditampilkan seolah menjadi miniatur Indonesia—berbeda dalam identitas budaya, namun tetap berpadu dalam satu semangat kebangsaan.
Kepala UPT SDN 273 Gresik Mushlikh S.pd menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekedar perayaan kemerdekaan.
“Kegiatan ini bukan sekedar perayaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kami ingin memberikan pengalaman kepada anak-anak bahwa keberagaman budaya adalah kekayaan yang harus dikenal, dihargai, dan dilestarikan. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap tumbuh generasi yang memiliki rasa bangga terhadap identitas bangsanya, namun tetap terbuka dan mampu menghargai perbedaan.”ujarnya .Senin (31/06/2026)
Menurutnya, pengenalan budaya sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman yang semakin terbuka.
“Kami ingin anak-anak tumbuh sebagai generasi yang modern tanpa kehilangan jati dirinya sebagai anak Indonesia. Mereka boleh mengenal dunia seluas-luasnya, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat. Sebab, kemajuan sebuah bangsa akan memiliki makna ketika generasinya tetap mampu menjaga identitas dan warisan budaya yang dimiliki.”
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah UPT SDN 273 Gresik, Muhammad Nasir, melihat karnaval tersebut sebagai gambaran sederhana mengenai arti kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa.
“Anak-anak hari ini hadir dengan pakaian adat yang berbeda-beda, tetapi mereka berjalan dalam satu barisan dan satu semangat. Bagi kami, inilah gambaran sederhana tentang Indonesia beragam budaya, tetapi tetap satu dalam kebersamaan. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kemeriahan sesaat, melainkan menjadi pengalaman yang membentuk karakter mereka untuk mencintai budaya, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan.”
Muhammad Nasir menambahkan, pendidikan kebangsaan tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.
“Ketika anak mengenakan pakaian adat, mengenal asal-usulnya, kemudian melihat temannya menggunakan pakaian dari daerah yang berbeda, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang Indonesia secara langsung. Dari pengalaman sederhana itu kami ingin menumbuhkan rasa hormat terhadap keberagaman dan kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.”
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Kepala Desa Khamim . Kehadirannya menjadi bentuk apresiasi sekaligus dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan pendidikan dan penguatan karakter generasi muda di lingkungan masyarakat.
Khamim memandang kegiatan budaya yang melibatkan anak-anak memiliki nilai penting dalam menjaga kesinambungan tradisi.
“Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga diperkenalkan kepada kekayaan budaya bangsa. Kita ingin generasi muda tumbuh dengan rasa bangga terhadap Indonesia, mengenal tradisinya, dan memiliki kepedulian untuk ikut melestarikannya.”
Menurutnya, sekolah dan masyarakat memiliki peran yang sama dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan agar tetap tumbuh di tengah generasi muda.
Karnaval budaya UPT SDN 273 Gresik akhirnya menjadi sebuah perayaan yang sarat makna. Di balik kemeriahan pakaian adat dan antusiasme para peserta, tersimpan pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus hidup dan diwariskan.
Dari halaman sekolah, semangat kebhinekaan itu diperkenalkan. Dari generasi muda, masa depan budaya Indonesia dipertaruhkan.
(Ul JPN)
View



Hi Please, Do not Spam in Comments