Saat Rachmat Penyambung Lidah Pendiri Negara memaparkan isi pesan yang dibawanya dari sepuh di Kuningan, Dr. Kun tak kuasa menahan rasa kagum. Setiap kalimat yang disampaikan terasa begitu menyatu dengan perjalanan hidupnya: perjuangan kemanusiaan, visi menjunjung Merah Putih, jenjang pengabdiannya hingga meraih gelar kesarjanaan dan doktor, semangat Deklarasi Bandung, bahkan peristiwa menyentuh tentang 12 Paskibraka dan kokohnya Sang Saka Merah Putih. Semua terasa seperti tabir yang terungkap: bahwa kehadiran rombongan ini adalah perwujudan dari apa yang selama ini tersirat.
Saat lembar demi lembar AMANAT TUNGGAL yang ditulis langsung oleh Sinuhun Djakaria Samaun Karta Negara diserahkan, Dr. Kun menyatakan dengan tegas:
“Ini bukan tulisan orang biasa. Gaya bahasanya bukan milik abad ke-20 atau ke-21. Tersirat nuansa Sansekerta, aksara Jawi Kuno yang mirip teks Ho No Co Ro Ko, layaknya tulisan pada prasasti zaman dahulu. Orang masa kini tak akan mampu menulis sedalam dan seindah ini. Di dalamnya terselip makna sastra warisan Pajajaran, hingga menyentuh makna Syahadat Silih Wangi ini adalah inti, induk rujukan yang menjadi landasan berdirinya persatuan dan kesatuan Indonesia.”
Malam semakin larut, namun suasana tetap terjaga khidmat. Dr. Kun yang baru saja pulang dari Istana Negara bahkan belum sempat berganti pakaian, langsung menyambut rombongan tersebut yang turut didampingi Sangheyang Hamim Presiden Repoeblik Ngopi sekaligus Duta Wisata Internasional Kawasan Gunung Arjuna, Induk Peradaban Dunia.
Dalam pembicaraan, Asep Saifullah menegaskan keinginan mempercepat pertemuan langsung dengan Eyang Sinuhun Djakaria Samaun Karta Negara di Kuningan:
“Kita sudah tentukan waktunya agar semuanya terang benderang, tak ada yang tertutup, dan amanat ini segera terlaksana.”
Di akhir pertemuan, Rachmat menutup dengan janji tegas:
“Secara pribadi kami siap mengawal Tuan Dr. Kun bertemu dengan Eyang di Kuningan, dan kami bersedia menunggu kapanpun waktunya tiba. Sementara itu, saya dan Sangheyang Hamim akan tetap berada di Kota Bogor hingga amanat ini terselesaikan.”
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan titik temu antara amanat leluhur yang masih hidup dan langkah nyata pemimpin bangsa untuk kembali ke akar jati diri peradaban Nusantara.
(Hamim JPN)
View


Hi Please, Do not Spam in Comments