![]() |
| [Foto : Gong Pancasan Bogor] |
Bogor | Jurnalpersnusantara.com – Di balik dentingan merdu sebuah gong tradisional, tersimpan sejarah panjang bangsa yang telah melintasi lebih dari tiga abad. Namun kini, warisan budaya tersebut menghadapi ujian berat. Gong Pancasan Bogor, yang dikenal sebagai sentra pembuatan gong tradisional tertua dan satu-satunya di Jawa Barat, tengah berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah lonjakan biaya produksi dan menurunnya permintaan pasar.
Hal itu disampaikan Krisna Hidayat, penerus keluarga pembuat Gong Pancasan, dalam wawancara khusus bersama Rajawali Kompas Dan Jurnalpersnusantara, Selasa (30/6/2026).
Menurut Krisna, usaha yang diwariskan turun-temurun selama lebih dari 370 tahun itu bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari pelestarian identitas budaya Nusantara.
"Untuk sementara kami menghentikan produksi gong baru karena biaya bahan baku dan proses produksi meningkat hingga sekitar 70 persen. Dengan kondisi pasar saat ini, kami belum berani mengambil risiko spekulasi yang terlalu besar. Meski demikian, kami tetap melayani perawatan, perbaikan, dan menerima pesanan sesuai kemampuan produksi," ujarnya.
Gong Pancasan telah berdiri sejak masa kolonial Belanda dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tongkat estafet tersebut diteruskan oleh Abah Panarang, Djasimah, Ahmad, Djakim, Djoepri, H. Sukarna, hingga kini berada di tangan Krisna Hidayat yang mulai aktif mengelola usaha keluarga sejak 2015.
Istri almarhum H. Sukarna, Hj. Mariam (66), mengenang perjuangan suaminya yang sepanjang hidup mengabdikan diri menjaga kualitas dan keaslian suara gong tradisional. H. Sukarna wafat pada 12 Mei 2018 dengan meninggalkan harapan agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan kembali mencapai masa kejayaannya.
Pada masa kejayaannya, Gong Pancasan menjadi destinasi berbagai tokoh nasional maupun tamu mancanegara. Sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri Hartarto dan Harmoko pada era Presiden Soeharto, pernah mengunjungi lokasi tersebut. Bahkan, istri Presiden Republik Ceko juga datang pada 2017 untuk melihat langsung proses pembuatan gong tradisional.
Tak hanya itu, Gong Pancasan juga pernah masuk dalam daftar 100 Maestro Nasional pada masa Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta mendapat perhatian pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Krisna menegaskan bahwa pembuatan gong tradisional membutuhkan keterampilan tinggi yang tidak bisa digantikan mesin modern.
"Yang paling sulit bukan membuat bentuknya, tetapi menghasilkan karakter suara yang tepat. Dibutuhkan pengalaman, ketelitian, kepekaan rasa, dan teknik khusus agar setiap gong memiliki kualitas bunyi yang sempurna," jelasnya.
Karena itu, regenerasi pengrajin menjadi tantangan besar. Semakin sedikit generasi muda yang bersedia mempelajari proses panjang pembuatan gong secara tradisional.
Di tengah berbagai tantangan, Krisna berharap pemerintah melalui kementerian terkait memberikan perhatian lebih serius terhadap pelestarian industri budaya tradisional.
"Kebudayaan Nusantara harus terus dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi bagi para pengrajin. Kami berharap ada dukungan nyata, termasuk pemeliharaan rutin terhadap warisan budaya ini. Kami juga siap bekerja sama karena lokasi kami cukup dekat dengan pusat pemerintahan," katanya.
Ia menegaskan, hingga kini seluruh proses pembuatan Gong Pancasan tetap mempertahankan metode tradisional menggunakan keterampilan tangan tanpa mengandalkan mesin modern. Prinsip tersebut dipertahankan demi menjaga keaslian karakter suara, nilai sejarah, serta autentisitas warisan budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Di tengah arus modernisasi, kisah Gong Pancasan menjadi pengingat bahwa melestarikan budaya bukan hanya menjaga benda bersejarah, melainkan juga mempertahankan pengetahuan, keterampilan, dan identitas bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.
(Hamim JPN)
View



Hi Please, Do not Spam in Comments