![]() |
| [Foto : Pujo Asmoro (tengah, berpakaian hitam), Pimpinan Redaksi Jurnal Pers Nusantara, bersama keluarga besar Padepokan Adem Ayem menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.] |
Oleh: Pimpinan Redaksi JPN Pujo Asmoro
Sidoarjo | Jurnalpersnusantara.com - Idul Fitri bukan sekedar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, melainkan momentum sakral untuk kembali kepada kesucian jiwa. Di balik gema takbir yang berkumandang, tersimpan kerinduan mendalam manusia kepada Tuhan kerinduan untuk kembali dekat, bersih, dan penuh makna dalam menjalani kehidupan.
Idul Fitri bukan hanya momen kebahagiaan karena dapat berkumpul bersama keluarga dan sahabat, tetapi juga waktu terbaik untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta membersihkan hati dengan penuh keikhlasan. Setelah menjalani ibadah Ramadan selama sebulan penuh, umat Islam merayakan hari kemenangan dengan rasa syukur dan jiwa yang kembali suci.
Membersihkan hati bukan sekedar ungkapan, melainkan tindakan nyata. Memaafkan segala kesalahan masa lalu, merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur, serta menjaga kerendahan hati menjadi kunci utama. Idul Fitri juga menjadi pengingat untuk menyampaikan salam hangat kepada keluarga di kampung halaman serta menjaga keharmonisan dalam hubungan persaudaraan.
Di balik itu semua, terdapat dimensi spiritual yang lebih dalam, yaitu kerinduan kepada Tuhan. Kerinduan ini bukan sekedar keinginan, melainkan kondisi batin di mana jiwa merasa terpaut, membutuhkan, dan mencintai Sang Pencipta di atas segalanya. Tanpa kehadiran-Nya, hidup terasa hampa dan kehilangan makna.
Kerinduan kepada Tuhan merupakan refleksi dari pencarian hakikat hidup, sebuah perjalanan batin untuk kembali kepada asal sejati manusia. Sementara itu, menjaga kesucian hati menjadi jalan utama agar kerinduan tersebut benar-benar berbuah kedekatan spiritual.
Menjaga kesucian hati adalah upaya sadar untuk memurnikan batin dari berbagai kotoran rohani, seperti iri hati, kebencian, kesombongan, dan ambisi duniawi yang berlebihan. Hati yang bersih adalah “rumah” bagi nilai-nilai ilahi, tempat di mana ketenangan dan kedamaian bersemayam.
Dalam praktiknya, menjaga hati diwujudkan melalui ketaatan kepada Tuhan. Ibadah tidak lagi menjadi beban, melainkan wujud cinta yang tulus. Amal dilakukan bukan karena ingin dilihat atau dipuji, tetapi karena dorongan keikhlasan yang mendalam.
Puasa yang dijalani selama Ramadan sejatinya bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa mengajarkan pengendalian diri menahan amarah, menjaga lisan dari ghibah dan fitnah, serta membatasi diri dari hal-hal yang dapat merusak ketenangan batin.
Menjaga mata dan telinga dari hal yang tidak bermanfaat, serta melatih kesabaran dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, menjadi bagian penting dalam proses penyucian diri. Evaluasi diri pun perlu dilakukan secara rutin, agar hati tetap terjaga dari hal-hal yang dapat menodai kejernihannya.
Pada akhirnya, kerinduan kepada Tuhan adalah penggerak untuk mendekat kepadanya, sementara kesucian hati adalah jalan untuk merasakan kehadirannya. Keduanya saling melengkapi, menghadirkan kehidupan yang tenang, taat, dan penuh makna.
Idul Fitri menjadi titik awal untuk terus menjaga hati, memperbaiki diri, dan menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Sebab, hati yang bersih dan penuh syukur adalah sumber kebahagiaan sejati.
(Redaksi JPN)
View

Hi Please, Do not Spam in Comments