Ketika Mangrove Menjadi Simbol Kolaborasi Menjaga Masa Depan Gresik

Admin
0

[Foto : Penanaman mangrove bersama Saka Indonesia Pangkah Limited (PGN SAKA) di Banyuurip Mangrove Center, Gresik, Kamis (27/8/2026).]
Gresik | Jurnalpersnusantara.com — Ada makna yang jauh lebih besar dari sekedar menanam sebatang mangrove. Di dalamnya terdapat pesan tentang kepedulian, keberlanjutan, dan tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan agar tetap menjadi ruang kehidupan bagi generasi mendatang.


Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Penanaman Mangrove bersama Saka Indonesia Pangkah Limited (PGN SAKA) yang berlangsung di Banyuurip Mangrove Center, Gresik, Kamis (27/8/2026).


Kegiatan tersebut turut dihadiri dr. Shinta Puspitasari, istri Wakil Bupati Gresik dr. H. Asluchul Alif, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, S.T., M.T.


Pertemuan berbagai unsur dalam satu kegiatan lingkungan tersebut menjadi gambaran bahwa menjaga alam membutuhkan lebih dari sekedar kepedulian individu. Ia membutuhkan kesediaan untuk berjalan bersama, membangun kesadaran, sekaligus menghadirkan tindakan nyata.


Mangrove merupakan bagian penting dari ekosistem pesisir. Keberadaannya membantu menjaga kawasan pantai sekaligus menyediakan ruang hidup bagi berbagai organisme. Karena itu, merawat kawasan mangrove sesungguhnya merupakan bagian dari menjaga rantai kehidupan yang lebih luas.


Di tengah perkembangan Gresik sebagai kawasan industri dan ekonomi, keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan menjadi sebuah keniscayaan.


Pertumbuhan ekonomi memang penting. Namun, pembangunan yang memiliki nilai keberlanjutan adalah pembangunan yang tidak meninggalkan persoalan lingkungan bagi generasi setelahnya.


“Lingkungan bukan warisan yang boleh kita habiskan. Lingkungan adalah amanah yang harus kita rawat, agar generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk menikmati bumi yang sehat.”

Dari Banyuurip, pesan itu menemukan bentuknya melalui bibit-bibit mangrove yang ditanam. Kecil secara fisik, tetapi besar jika dimaknai sebagai bagian dari gerakan bersama menjaga pesisir.


Kehadiran pemerintah daerah dan unsur dunia usaha dalam kegiatan ini sekaligus mempertegas bahwa agenda lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan pengawasan, dunia usaha dapat mengambil bagian melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan, sementara masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan di lapangan.


Namun, pekerjaan sesungguhnya tidak selesai ketika acara berakhir.


Bibit yang telah ditanam membutuhkan perhatian, pemeliharaan, dan keberlanjutan program agar kelak tumbuh menjadi kawasan mangrove yang kuat.


“Sebuah gerakan lingkungan tidak dinilai dari meriahnya seremoni, tetapi dari apa yang tetap hidup setelah seremoni itu selesai.”


Kalimat tersebut menjadi refleksi penting dari kegiatan penanaman mangrove di Banyuurip. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang berapa banyak pohon yang ditanam hari ini, melainkan tentang bagaimana pohon-pohon itu tumbuh, bertahan, dan kelak memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat.


Pada akhirnya, mangrove bukan hanya tentang pohon.Ia adalah tentang perlindungan pesisir, keberlangsungan ekosistem, ruang hidup, dan masa depan.


Dan dari satu bibit yang ditanam hari ini, sebuah pesan besar sedang dititipkan: bahwa menjaga alam adalah investasi yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi nilainya akan diwariskan kepada generasi yang belum lahir.

(Dwi JPN)

Baca Juga Artikel ini

View

Posting Komentar

0 Komentar

Hi Please, Do not Spam in Comments

Posting Komentar (0)
3/related/default

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!